Manokwari, [11 Agustus 2025] — Ruang kelas 7A, 7D, dan 8B SMP Negeri 27 dipenuhi keceriaan pada kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan oleh tim dosen Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Papua, bersama mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Matematika Statistika (HIMMASTA). Kegiatan ini dipimpin oleh Koordinator Alumni HIMMASTA, Trigarcia M. Randa, S.Si., M.Si., dengan dukungan anggota Loria Amisah Lubis, S.Pd., M.Si, Esther Ria Matulessy, S.Si., M.Si, Chrisaria Palungan, S.Pd., M.Si, dan Dahlia Gladiola Rurina Menufandu, S.Si., M.Stat
Tujuan utama kegiatan ini adalah mengatasi kesulitan belajar matematika yang dihadapi siswa, khususnya kelas VII dalam operasi hitung bilangan bulat dan kelas VIII dalam pemahaman konsep bilangan berpangkat bulat serta bilangan bentuk akar. Pendekatan yang digunakan memadukan pembelajaran materi dengan metode permainan edukatif, sehingga siswa tidak hanya memahami konsep tetapi juga terlibat aktif dan bersemangat.
Memahami Operasi Bilangan Bulat dengan Cara Visual

Sesi pertama dimulai dengan membahas operasi hitungan bilangan bulat. Tim pengabdian mengajak siswa untuk tidak sekadar menghafal rumus, tetapi memahami maknanya melalui contoh sehari-hari. Misalnya, penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat dijelaskan dengan ilustrasi, perhitungan uang jajan, hingga permainan langkah maju-mundur, sehingga konsep matematika yang abstrak menjadi lebih konkret dan mudah dicerna. Senyum dan tawa mulai memenuhi ruangan ketika siswa berhasil memecahkan soal yang sebelumnya dianggap sulit.

Para siswa kelas VII, materi garis bilangan disajikan melalui permainan Perjalanan Cenderawasih, sebuah adaptasi kreatif dari permainan ular tangga. Setiap langkah pion mewakili operasi hitung bilangan bulat, membuat siswa belajar sambil bermain. Metode ini tidak hanya mempermudah pemahaman konsep posisi angka pada garis bilangan, tetapi juga melatih ketepatan berhitung secara langsung. Setiap langkah pion siswa merepresentasikan operasi hitung bilangan bulat, sehingga mereka belajar sambil merasakan pengalaman visual dan kinestetik. Pendekatan ini terbukti membuat konsep garis bilangan lebih mudah dipahami sekaligus menyenangkan.
Membongkar Misteri Bilangan Berpangkat
Materi kemudian berlanjut pada bilangan berpangkat, yang sering kali menjadi tantangan tersendiri bagi siswa. Tim pengabdian menjelaskan mulai dari definisi, sifat-sifat, hingga penerapan dalam kehidupan nyata. Melalui latihan bertahap, siswa dapat melihat bahwa bilangan berpangkat bukan sekadar soal angka besar, tetapi juga memiliki pola yang indah dan logika yang sederhana jika dipahami dari awal.

Sementara itu, pada siswa kelas VII dengan materi bilangan berpangkat bulat dan bilangan bentuk akar, digunakan Matching Game, di mana siswa harus mencocokkan kartu soal dan jawaban dengan cepat dan tepat. Siswa yang mengetahui jawaban segera mengambil kartu tersebut dan menempelkannya pada jawaban yang sesuai di papan. Sorak sorai, tawa, dan tepuk tangan menggema setiap kali pasangan soal-jawaban ditemukan dengan benar, menciptakan atmosfer belajar yang penuh semangat dan kompetitif.
Kegiatan diawali dengan sambutan perwakilan FMIPA Universitas Papua, dilanjutkan perkenalan tim pengabdian, pemberian materi, dan sesi permainan. Antusiasme semakin meningkat saat pemenang permainan mendapatkan hadiah menarik yang menambah semangat belajar siswa.
“Kami ingin menunjukkan bahwa matematika tidak selalu sulit dan membosankan. Dengan metode yang tepat, belajar matematika bisa jadi seru dan menyenangkan,” ujar Trigarcia M. Randa, S.Si., M.Si selaku koordinator kegiatan.
Kepala SMP Negeri 27, yang turut hadir dalam kegiatan, mengapresiasi inisiatif dari FMIPA Universitas Papua dan HIMMASTA. “Anak-anak terlihat sangat bersemangat. Kami berharap kegiatan seperti ini bisa dilakukan secara rutin,” ungkapnya

Kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama antara tim pengabdian, guru, dan para siswa sebagai kenang-kenangan. Melalui kegiatan ini, FMIPA Universitas Papua berharap dapat terus berkontribusi dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Papua Barat, sekaligus menumbuhkan minat belajar matematika di kalangan siswa.
Kepala SMP Negeri 27 menyampaikan apresiasi mendalam atas kegiatan ini. “Metode kreatif seperti ini membantu siswa lebih cepat memahami materi yang biasanya dianggap sulit. Selain itu, mereka juga jadi lebih berani dan percaya diri dalam menjawab soal,” ujarnya.
Dengan semangat kolaborasi antara dosen, mahasiswa, dan pihak sekolah, kegiatan ini menjadi bukti bahwa pembelajaran matematika dapat dikemas menarik tanpa mengurangi kedalaman materi. Tim pengabdian berharap program ini dapat menjadi inspirasi bagi metode pengajaran di kelas dan memupuk kecintaan siswa terhadap matematika sejak dini.